Kita adalah apa yang kita lakukan, bahkan sekecil apa pun itu. Meski hanya "ngupil" di tempat umum, hal itu memiliki pengaruh bagi citra Anda. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap detik dan kita ulang seumur hidup akan menciptakan identitas bagi kita. Maka, mengubah kebiasaan kecil berarti mengubah identitas kita secara keseluruhan.
Jika di pagi hari Anda sudah memikirkan beratnya menjalani hidup, mungkin identitas Anda adalah orang yang pesimistis. Jika Anda berpikiran "jorok" setelah melihat artis seksi, mungkin Anda mesum, hehehe. Jika Anda suka mengumpat pejabat, mungkin Anda memang tinggal di Indonesia.
Bisakah kita mengubah kebiasaan? Yang artinya, bisakah kita mengubah siapa diri kita? Jawabannya tentu bisa, bahkan sangat mudah dan sederhana—semudah membalik telapak tangan. Prinsip dasar yang harus kita pegang dalam mengubah kebiasaan adalah: harus menyenangkan (fun) dan tidak membuat kita tertekan.
1. Mulailah dari Hal yang Paling Kecil dan Remeh
Kebiasaan yang paling kita remehkan itulah yang justru paling mungkin kita lakukan. Memilih makan sayur lodeh daripada telur rebus adalah kebiasaan remeh-temeh, tapi kebiasaan itulah yang akan membentuk diri kita; apakah akan melahirkan tubuh sehat atau tubuh penyakitan.
Jika selama ini Anda gagal membangun kebiasaan baru, bisa jadi karena targetnya terlalu sulit. Contohnya: Anda ingin membiasakan push-up 100 kali dalam sehari. Namun, Anda tidak pernah melakukannya karena otak sudah mencatatnya sebagai beban yang berat. Maka, dari target 100 itu, potonglah hingga tersisa dua kali push-up saja per hari.
Karena hanya dua kali, pasti tidak akan terasa berat. Pelan-pelan Anda bisa meningkatkannya, tapi jangan terburu-buru.
2. Mencari "Jangkar"
Sebagai manusia, kita sebenarnya sudah memiliki seperangkat kebiasaan yang dijalankan secara sadar maupun tidak sadar. Pagi hari kita mandi, lalu sarapan, salat, dan mungkin sehabis makan kita merokok. Itu semua adalah kebiasaan yang terbentuk secara alami.
"Jangkar" adalah tanda yang berasal dari kebiasaan yang sudah ada. Kita menjadikannya tumpuan untuk memicu kebiasaan baru. Rumusnya: Setelah kebiasaan A, maka saya akan melakukan kebiasaan B.
Contohnya: "Setelah makan siang, saya akan membaca buku satu paragraf." Makan siang adalah jangkarnya, dan membaca satu paragraf adalah kebiasaan barunya. Kebiasaan membaca ini pun nantinya bisa menjadi jangkar untuk kebiasaan baru lainnya yang bisa kita tumpuk sebanyak yang kita mau.
3. Rayakan Keberhasilan Kecil (Shine)
BJ Fogg menyebutnya "Shine". Ia menggunakan istilah ini karena tidak ada padanan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan senang setelah melakukan kebiasaan kecil.
Shine erat kaitannya dengan imbalan (reward) yang kita dapatkan. Reward ini harus didapatkan tepat setelah melakukan kebiasaan tersebut. Memberikan hadiah yang jauh dari waktu pelaksanaan tidak akan berdampak pada kelanjutan kebiasaan, karena otak kita menyukai kepuasan instan.
Lalu, bagaimana cara merayakan Shine? Cukup berikan rasa puas kepada diri sendiri. Anda bisa mengucapkan syukur setelah push-up dua kali, berteriak "Yes!", atau membayangkan diri Anda bertambah pintar setelah membaca satu paragraf. Intinya adalah memberikan penghargaan kecil yang langsung dirasakan saat itu juga.
4. Berubah Bersama
Membantu orang lain melakukan apa yang ingin mereka lakukan adalah materi penting dalam perubahan perilaku. Dengan membantu orang di sekitar kita berubah, kita pun ikut berubah karena sering kali kita bergerak dalam sebuah kelompok.
Melakukan perubahan secara berkelompok hampir sama dengan individu, bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung:
Secara Langsung: Anda dan kelompok secara sadar mengidentifikasi perilaku yang perlu ditambahkan untuk mencapai aspirasi tertentu. Mulailah dengan menentukan tujuan bersama, lalu lakukan brainstorming perilaku apa saja yang mendukung tujuan tersebut. Dari sana, pilihlah perilaku yang paling berdampak namun paling mungkin dilakukan.
Secara Tidak Langsung: Anda bisa menjadi pemimpin yang memahami metode Tiny Habits ini untuk mengarahkan kelompok, atau bahkan mengubah orang lain secara "diam-diam" melalui desain lingkungan.
| Tini Habit (BJ. FOGG) |
Metode ini membedah perubahan perilaku dengan pendekatan yang mudah. Artinya, perubahan harus dilakukan sesederhana dan semenyenangkan mungkin. Ketika kita gagal menciptakan suatu kebiasaan, kegagalan itu tidak boleh meninggalkan trauma atau rasa tidak nyaman. Jika tidak menyenangkan, proses pembentukan kebiasaan tidak akan berjalan dengan baik.









