Sebagai negara super power Amerika telah mendeklarasikan banyak perang dalam hidupnya. Perang sudah menjadi salah satu mata pencariannya bahkan identitasnya.
Namun perlu kita pahami mengapa amerika melakukan ini semua? Sebagai sebuah negara yang berisi berbagai macam kepala amerika memilih perilaku agresi dalam perjalanannya. Dia menjadi negara yang mengandalkan perang dan rasa takut untuk memperkuat eksistensinya.
Semua itu pastilah memiliki alasan. Alasan yang menggerakkan dirinya menjadi negara yang gemar menginvasi negara lain.
Memori Kolektif: Kelahiran dari Identitas Rahim Ekspansi
Untuk memahami perilaku Amerika hari ini, kita harus melihat "masa kecil" bangsa ini. Amerika Serikat tidak lahir dari isolasi, melainkan dari pola perilaku predatoris yang sukses secara sistemik. Dari awal kedatangan bangsa amerika di tanah amerika, mereka adalah penjajah.
Orang-orang amerika yang ada sekarang ini berasal dari orang-orang amerika yang membantai penduduk amerika sebelumnya – Indian. Orang-orang indian sudah ada di sana 13.000 tahun yang lalu kemudian datanglah columbus di tahun 1492 dengan tujuan mencari kekayaan (rute perdagangan baru dan hadiah dari kerajaan spanyol).
Bibit kolonial ditelurkan oleh spanyol. Spanyol Lah yang melakukan penjajahan di awal, menyiksa penduduk lokal dengan kerja paksa, penyiksaan di tambang emas, dan membawa wabah. Menjadikan warga lokal menjadi warga kelas bawah padahal mereka adalah orang yang pertama kali mendiami tanah itu.
Kedatangan Inggris di Amerika bukan membawa angin segar namun membawa angin busuk yang mencekik kerongkongan bangsa indian. Para pendatang ini lebih kejam; mereka melakukan pengusiran dan pembantaian sistematis. Hal ini menciptakan sebuah Siklus Perilaku (Habit Loop) di mana keamanan nasional hanya bisa dicapai melalui penghancuran pihak lain. Identitas sebagai 'penakluk' ini kemudian bermutasi: dari membantai Indian demi tanah, menjadi menginvasi negara lain demi minyak atau dominasi geopolitik. Amerika tidak sedang menjalankan politik luar negeri; mereka sedang menjalankan insting dasar yang mereka pelajari sejak lahir."
Amerika Serikat tidak hanya membangun negara di atas tanah Indian, mereka membangun psikologi bangsa di atas reruntuhannya. Identitas yang lahir dari rahim ekspansi ini menciptakan sebuah 'genetik perilaku' di mana perdamaian dianggap sebagai stagnasi, dan perang dianggap sebagai bukti eksistensi. Amerika bukan hanya negara yang berperang; Amerika adalah perang itu sendiri yang menjelma menjadi sebuah negara.
China dan Rusia sebagai Sebuah Tanda (cue)
Sebagai sebuah negara yang terbiasa menjadi dominator khususnya dalam hal militer, Ekonomi, dan Budaya, Amerika merasa terancam keberadaannya terhadap Rusia dan China. Rusia dan china dianggap sebagai tanda ancaman yang menggoyahkan dominasi amerika.
Sebagai negara terluas di dunia, Rusia memiliki beragam keunggulan. Secara geografis rusia merupakan bagian dari Asia dan Eropa, menjadikan area bermain rusia menjadi luas: Perdagangan, penempatan militer, bahkan sumber daya alam membuat mereka unggul. Jalur-jalur perdagangan dan militer wilayah utara jelas dikuasai oleh Rusia membuat mereka penguasa di jalur utara yang menghubungkan antara rusia dan kanada sehingga amerika ngotot merebut greenland karena canada sudah bermitra dengan rusia membuat amerika perlu membuat tameng di greenland.
Sedangkan cina dengan perkembangan teknologi dan dominasi perdagangannya membuat Amerika juga merasa terbayang-bayangi. Setelah bertahun-tahun mendominasi hingga membuat branding sebagai negara kaya dan adidaya membuat ego amerika tersentil karena tidak ingin berbagi panggung dengan china.Belum lagi posisi taiwan yang merupakan produsen chip dunia berdekatan dengan china. Membuat amerika bertindak segala cara supaya Taiwan tetap berada di genggamannya sehingga ketegangan antara dua negara itu tidak bisa dihindari.
Rusia dan China telah membangkitkan keinginan Amerika untuk menggunakan kekuatan militernya. Berbagai cara dilakukan oleh amerika mulai dari framing media sampai pengerahan militer secara langsung. Insting dominasi amerika kembali aktif melihat di utara ada Rusia dan di selatan ada China dan dua negara ini dalam satu kesepakatan – melawan Amerika.
Dolar dan Militer: Sang Hadiah Abadi
Mengapa Amerika terlalu repot melakukan semua hal ini? Jawabannya ada pada Dolar dan Militer. Dengan dua benda itu, Amerika telah mengendalikan dunia. Itu adalah habit Amerika yang sudah mendarah daging.
Keunggulan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi sistematis yang dikunci pada Perjanjian Bretton Woods tahun 1944. Saat itu, menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Amerika mengundang 44 negara dan berhasil menetapkan kesepakatan bahwa Dolar Amerika akan menjadi mata uang cadangan dunia yang dipatok dengan emas. Sejak saat itulah, "jalur saraf" ekonomi dunia dipaksa melewati Washington.
Dominasi ini semakin absolut pada tahun 1970-an melalui sistem Petrodolar, di mana Amerika memastikan setiap liter minyak yang dijual di dunia harus dibayar menggunakan Dolar. Inilah imbalan (reward) yang luar biasa: Amerika bisa mengimpor kekayaan dari seluruh dunia hanya dengan mencetak kertas, sementara negara lain harus memproduksi barang nyata untuk mendapatkan kertas tersebut.
Inilah mengapa Amerika merasa sangat terancam dengan hadirnya BRICS yang ingin menggerus dominasi Dolar. Bagi Amerika, ini adalah pernyataan perang. Ketika negara-negara mulai bertransaksi dengan mata uang mereka sendiri (de-dolarisasi), "mesin dopamin" ekonomi Amerika terganggu. Sumber uang yang bisa mereka cetak sesuka hati kini terancam tidak laku lagi.
Bagi Amerika, kehilangan dominasi Dolar berarti kehilangan identitas sebagai adidaya. Oleh karena itu, refleks agresi militer mereka kembali aktif—bukan untuk menyebarkan demokrasi, melainkan untuk melindungi "Hadiah" yang telah mereka nikmati sejak 1944 tersebut.
Habit Reversal Training untuk Kebiasaan Buruk Amerika
Jika Amerika adalah seorang pasien yang kecanduan agresi, maka "pengobatan" melalui Habit Reversal harus dilakukan dalam tiga langkah strategis:
1. Pelatihan Kesadaran (Awareness Training)
Langkah pertama adalah menyadari pemicu (cue). Amerika harus dilatih untuk menyadari bahwa setiap kali negara lain tumbuh, refleks mereka adalah "marah" secara militer.
Solusi: Memperkuat peran lembaga internal dan opini publik global untuk mengekspos bahwa "rasa terancam" Amerika sering kali hanyalah ego yang tersentil, bukan ancaman keamanan nyata. Amerika perlu belajar membedakan antara ancaman eksistensial dan kompetisi sehat.
2. Mengembangkan Respons Pengganti (Competing Response)
Dalam Atomic Habits, cara termudah untuk menghentikan kebiasaan buruk bukanlah dengan menahannya, tapi dengan menggantinya. Amerika membutuhkan rutinitas baru untuk mendapatkan "Hadiah" (Reward) yang sama tanpa harus berperang.
Dari Militer ke Inovasi: Jika selama ini hadiahnya adalah "dominasi," Amerika harus belajar mendapatkan dominasi tersebut melalui jalur Diplomasi Hijau atau Kepemimpinan Teknologi Sektor Sipil.
Multilateralisme sebagai Habit Baru: Daripada memaksakan dolar secara unilateral (yang kini dilawan oleh BRICS), Amerika harus membiasakan diri dalam sistem Kerjasama Multipolar. Ini adalah respons pengganti yang lebih melelahkan di awal (karena harus bernegosiasi), namun jauh lebih stabil untuk jangka panjang.
3. Dukungan Lingkungan (Social Support & Environment Design)
Kebiasaan akan sulit berhenti jika lingkungan masih mendukung. Saat ini, sistem ekonomi Amerika dirancang untuk perang (karena menguntungkan industri senjata).
Menambah Hambatan (Adding Friction): Dunia harus menciptakan hambatan bagi habit agresi Amerika. De-dolarisasi yang dilakukan BRICS sebenarnya adalah cara dunia menambah friction bagi Amerika. Jika mencetak dolar tidak lagi semudah dulu, maka membiayai perang juga menjadi tidak mudah.
Redesain Identitas: Rakyat Amerika sendiri harus mulai memilih pemimpin yang menawarkan identitas sebagai "Negara Penemu" atau "Negara Pembangun," bukan lagi "Negara Polisi Dunia."
Perjalanan Menuju Identitas Baru
Mengubah Amerika bukan sekadar urusan mengganti presiden, tapi mengubah sistem syaraf kebijakan yang sudah terbentuk sejak pembantaian Indian, Bretton Woods, hingga era Petrodolar.
"Kesuksesan sejati dari Habit Reversal terjadi ketika sang subjek tidak lagi merasa perlu menyerang untuk merasa aman. Amerika harus menyadari bahwa di dunia yang multipolar, keamanan tidak lagi datang dari kemampuan menghancurkan orang lain, melainkan dari kemampuan untuk bekerjasama."
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments