Jumat, 13 Maret 2026

thumbnail

Mark Manson: Perang adalah Satu Masalah tapi Tidak Menerima Perang = Dua masalah



Beberapa waktu ini Trump, bocah yang sedang cari perhatian, menyedot atensi seluruh dunia dengan pernyataannya yang seperti remaja labil. Sebentar-sebentar ingin dapat Nobel Perdamaian, besoknya menculik Presiden Venezuela, lalu membunuh pemimpin Iran. Melihatnya di YouTube seperti melihat anak kecil bad mood yang memegang remote peluncur roket.

Internet terus saja memenuhi perhatian kita dengan berita-berita buruk. Perang menjadi salah satu bintang model yang sedang naik daun. Tiada hari tanpa berita roket tipe A, B, C yang sedang diluncurkan atau pemandangan asap dan gedung-gedung yang roboh. Seolah kita semakin dekat dengan pernyataan Einstein ini:

"Saya tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia III akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia IV akan diperjuangkan dengan tongkat dan batu."

Pernyataan ini cukup membuat bulu kuduk berdiri karena perang itu pelan-pelan sudah terjadi. Dan kita semua berdoa agar tidak pernah terjadi dan bisa kembali bermain Roblox dengan nyaman.

Terimalah Jika Langit Itu Biru dan Ternyata Itu Bukan Langit



Apakah Anda tahu bahwa warna biru di langit itu bukan langit yang sebenarnya? Warna biru itu merupakan batasan penglihatan Anda. Artinya, mata Anda tidak bisa melihat lebih jauh lagi. Dan kita tidak pernah mempermasalahkan langit biru itu, padahal itu memperlihatkan kelemahan kita.

Terimalah kelemahan Anda. Terimalah bahwa Anda memang tidak setampan boyband Korea, atau Anda tidak sepopuler Fajar Sadboy ataupun Reza Rahadian. Atau terimalah bahwa gaji Anda tidak lebih tinggi dari pegawai SPBU yang tidak membutuhkan ijazah S1. Terimalah bahwa Anda bukan pusat dunia; Anda ternyata tidak lebih dari NPC bagi tetangga atau bahkan presiden kita.

Mengakui bahwa banyak hal yang tidak bisa kita lakukan, meskipun itu menyakitkan, tapi itu baik untuk Anda. Hal ini seperti menelan pil yang terasa pahit, namun pil itu menyembuhkan Anda. Dengan melihat kelemahan kita, kita melihat diri kita secara utuh karena kebanyakan dari kita tidak mau melihat diri kita sendiri secara utuh. Kita cenderung tidak menerima bahwa kita ini makhluk dengan beribu kelemahan.

Jika rudal Amerika sampai di kamar tamu, Anda tidak akan banyak hal yang bisa kita lakukan pada saat itu. Tidak banyak hal itulah yang harus kita lakukan (mungkin cuma lari) dan itu memang kelemahan kita. Kita tidak bisa serta-merta terbang ke Amerika dan memaki-maki Donald Trump atau pergi ke Palestina dan mensmash seluruh roket yang mencoba meratakan Gaza.

Kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Karena banyak orang menderita karena tidak mengakui keterbatasannya sehingga dia mencoba melawan keterbatasan itu. Melawan keterbatasan bisa menjadi kisah yang heroik, tapi sebelum melawan, Anda harus menerima dan mengakui keterbatasan itu.

Kita harus terima jika perang terjadi dan merusak sendi-sendi ekonomi. Seperti langit biru, terimalah keterbatasan mata kita dalam melihat langit yang biru karena di balik langit biru itu ada bintang-bintang indah yang bertebaran.

Pilih Masalah Anda: Kebahagiaan Datang dari Menyelesaikan Masalah

Ada seorang teman yang mengatakan kepada saya, "Masalah adalah apa yang Anda anggap masalah." Masalah itu kita sendiri yang menentukan. Jika kita menganggap Maria Vania yang jarang muncul di YouTube sebagai masalah, maka itulah masalah Anda. Jika Anda merasa celana hitam Anda tidak selaras dengan kemeja ungu Anda, maka itu adalah masalah Anda, bukan masalah saya.

Perang ini pasti sebuah masalah entah bagi siapa pun itu: baik yang terdampak maupun yang tidak. Tapi kita juga bisa memilih perang ini jenis masalah yang seperti apa. Ingat, kita ini hanya NPC; para superhero berjas hitam di TV-lah yang harus menghentikan perang.

Sebagai NPC dalam drama perang ini, kita tidak bisa melakukan banyak dalam perang ini. Namun, kita tokoh utama dalam permainan kita sendiri. Fokus pada permainan yang kita pilih. Jika kalian memilih menjadi aktor perang, maka terimalah segala konsekuensi yang mengikuti. Namun, jika kalian memilih menjadi tokoh sampingan, ya yang penting kalian menjalankan tugas kalian.

Menjadi juru selamat perang akan sangat sulit bagi saya yang seorang guru SMA dengan gaji tidak lebih dari satu juta per bulan. Ini permainan yang membutuhkan tenaga yang sangat banyak, dan akan mengorbankan area bermain saya yang lain: seperti ayah yang baik, suami yang selalu memiliki waktu, dll. Permainan ini bukan untuk saya, namun jika mengurus rumah atau pergi ke bengkel untuk servis motor, itu adalah permainan yang mudah bagi saya.

Carilah lawan atau masalah yang mudah untuk dikalahkan. Jika mencari lawan yang susah ditaklukkan, Anda akan frustrasi dan tidak bahagia karena kebahagiaan itu datang dari memecahkan masalah. Kalau Anda tidak bisa mendamaikan perang, maka jangan pilih permainan itu. Kalau yang bisa Anda lakukan adalah menyumbang uang maupun doa, tidak ada salahnya.

Emosi adalah Kompas, Bukan Tujuan

Melihat Trump berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk membuat kita geram. Sebenarnya, apa tujuan orang ini? Sangat menyebalkan melihat "bocah" berambut putih ini mengacak-acak tatanan internasional; mulai dari tarif dagang, sanksi, dan segala tetek bengeknya. Belum lagi negara kita sendiri, yang dipenuhi pejabat dengan arah kebijakan yang semakin hari semakin absurd.

Media sosial seolah terus memancing emosi kita, seakan dunia akan segera mencapai titik klimaks kehancurannya.

Namun, perlu diingat: semua emosi itu adalah alarm. Alarm yang menunjukkan arah bahaya, bukan tujuan akhir. Merasa takut bukanlah garis finis. Rasa takut pada perang atau ketidakstabilan ekonomi hanyalah kompas bagi kita untuk bergerak. Ia ada agar kita semakin sadar dan memberikan arti yang lebih mendalam pada orang-orang yang kita sayangi yang berada di sekitar kita.

Jika dunia memang sedang menuju kehancuran, bukankah itu alasan terkuat bagi Anda untuk berhenti bertengkar dengan istri karena cucian kotor? Bukankah itu alasan untuk lebih sering memeluk anak Anda daripada membalas komentar toxic di internet?

Gunakan alarm itu untuk bangun, bukan untuk terus meringkuk dalam ketakutan.

Di sini kita belajar menerima segala hal yang membuat kita tidak nyaman: masalah, emosi, kelemahan, dan semua hal yang mengganggu kita, termasuk kondisi dunia yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Kita belajar terus bergerak di jalur kita. Meskipun kita tidak bisa menghentikan perang, namun langkah kecil kita dalam melipat baju, menerima diri sebagai NPC dalam drama perang ini, atau mengirimkan doa untuk korban perang, mungkin akan mengurangi kekacauan dunia meskipun sedikit.


Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments