The Psychology of Money karya Morgan Housel lebih mengedepankan bagaimanakah kekayaan itu mengalir. Melalui pelajaran dari buku Morgan Housel ini, kita mempelajari aliran uang itu dari hulu ke hilir. Bekerja keras seperti unicorn adalah cara mendapatkan kekayaan, namun bekerja keras saja tidak cukup. Ada faktor yang lain, faktor yang bahkan kerja keras pun bisa dikalahkan dengan mudah: keberuntungan.
Mendapatkan kekayaan dengan bekerja keras adalah hal yang harus dilakukan, namun mempertahankannya adalah skill atau keahlian yang lain lagi. Mempertahankan kekayaan bisa sama sulitnya dengan mendapatkan kekayaan. Namun ada satu hal yang membuat mendapatkan uang dan mempertahankan uang sama: keduanya butuh keberuntungan.
Uang Bergerak Sesuai dengan Pemiliknya
Saya memiliki tetangga seorang penjudi. Setiap kali memiliki uang menganggur, selalu dia depositkan untuk judi online. Menurut pengakuannya dia selalu untung, namun di saat yang sama dia terus-menerus deposit. Ternyata banyak orang yang memiliki kebiasaan berjudi seperti ini. Apakah yang dia lakukan salah? Sebagian besar dari kita pasti akan menyalahkan, tapi tunggu dulu. Salah dan benar dalam kasus ini sangat relatif.
Dalam psikologi uang, kita semua dibesarkan pada lingkungan dan pendidikan yang beragam. Pemahaman kita mengenai uang pun tidak kalah beragamnya. Sesuatu yang kita katakan salah, bisa jadi benar bagi orang lain. Yang harus kita pahami adalah jangan terlalu cepat memvonis salah pada cara orang memperlakukan uang.
Para penjudi mungkin berpikir tidak ada cara yang lebih mudah untuk kaya selain berjudi. Jika dia menyisihkan Rp400.000 per bulan untuk reksadana pasar uang, kemungkinan akan menjadi Rp5 juta lebih di akhir tahun. Namun, berjudi memberikan harapan bagi orang miskin untuk keluar dari kemiskinannya karena mereka tidak bisa memikirkan cara yang lebih cepat. Mengapa orang miskin berjudi menurut psikologi sering kali karena mereka merasa itulah satu-satunya "tiket" untuk menang besar. Kelakuan ini mungkin absurd bagi kita, namun masuk akal bagi mereka. Sebaliknya, kelakuan kita yang membeli obligasi negara bisa sama absurdnya bagi mereka. Jadi, jangan menjustifikasi bahwa Anda pemegang metode manajemen keuangan yang paling benar.
Selalu Ada Peran Keberuntungan di Hidupmu
Saya suka kisah Bill Gates dan Lakeside School dalam membangun Microsoft. Mengapa harus Bill Gates? Salah satu jawabannya adalah peran keberuntungan dalam kekayaan. Bill Gates beruntung bersekolah di Lakeside, satu-satunya sekolah yang memiliki komputer pada tahun 1968. Jika Bill Gates bersekolah di SMA Negeri di Indonesia pada tahun itu, saya yakin tidak akan ada Microsoft. Dari 303 juta siswa di dunia, dia memiliki akses langka tersebut.
Gates mengutak-atik komputer bersama temannya, Kent Evans, yang sama jeniusnya. Namun, Evans tidak seberuntung Gates; ia meninggal dalam kecelakaan pendakian gunung. Evans mengalami ketidakberuntungan yang menghentikan kariernya. Jika Anda memiliki investasi saham yang bagus hari ini, jangan sombong. Mungkin Anda memang hebat, tapi jelas ada faktor keberuntungan yang menyertai Anda. Ini membuat kita lebih menghargai kegagalan orang lain; mungkin mereka hanya tidak beruntung.
Compounding Segala Hal: Rahasia Warren Buffett
Dalam buku ini, ada sistem yang membuat Warren Buffett menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia. Kekayaannya sebagian besar didapatkan setelah usia 50 tahun melalui compounding interest atau bunga berbunga. Buffett berinvestasi sejak usia 11 tahun dengan imbal hasil sekitar 20% per tahun yang terus ia gulung.
Cara kerja compounding interest adalah menciptakan efek bola salju. Sebagai ilustrasi, jika Anda punya Rp100.000.000 di reksadana obligasi dengan return 10% per tahun dan meng-compound hasilnya selama 10 tahun, uang Anda menjadi Rp259.374.246. Anda mendapatkan imbal hasil lebih dari 100% hanya dengan bersabar. Inilah kekuatan investasi untuk pemula yang paling dasar: waktu.
Dunia Itu Seperti Dadu: Sejarah Mencatat Angka Tapi Tidak Bisa Meramal
Manusia mempelajari masa lalu untuk meramalkan masa depan, namun masa depan berjalan dengan hukumnya sendiri. Kita sering terjebak delusi bahwa pola masa lalu akan terulang. Morgan Housel mengingatkan bahwa ekonomi tidak seperti ilmu fisika. Dalam keuangan, peristiwa tak terduga atau Black Swan bisa menghapus semua prediksi dalam semalam.
Oleh karena itu, strategi terbaik dalam literasi keuangan bukanlah menjadi peramal akurat, melainkan menjadi orang yang paling siap menghadapi ketidakpastian dengan memiliki margin of error.
Antara Kerendahan Hati dan Kesabaran
Pada akhirnya, mengelola uang ternyata lebih banyak soal psikologi daripada matematika. Menjadi kaya mungkin butuh keberanian, namun tetap kaya membutuhkan kombinasi antara kerendahan hati dan kesabaran. Kita harus cukup rendah hati untuk mengakui bahwa keberuntungan berperan besar, sehingga kita tidak sombong saat di atas dan tidak putus asa saat di bawah.
Dalam rangkuman buku The Psychology of Money ini, pesan terpentingnya adalah biarkan compounding bekerja dalam diam. Jangan biarkan ego merusak rencana jangka panjang. Karena kekayaan yang paling bernilai adalah kemampuan untuk tidur nyenyak di malam hari tanpa perlu cemas tentang apa yang akan dilemparkan oleh dadu kehidupan esok pagi.
