Tampilkan postingan dengan label leila s chudori. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2026

thumbnail

Laut Bercerita: Meja Makan yang Selamanya Kosong dan Upaya Melawan Amnesia Sejarah

Review Buku Laut Bercerita
Sumber: detik.com

Bayangkan Anda adalah seorang ayah, ibu, atau seorang adik yang sedang menyiapkan makan malam. Anda selalu menyiapkan empat piring di atas meja, padahal hanya ada tiga anggota keluarga di rumah itu. Anda melakukannya karena terus berharap bahwa seorang anak atau kakak akan datang dengan senyum jahilnya, bergabung di meja makan, lalu menceritakan kisah-kisah petualangannya.

Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Meskipun ia telah menghilang, ingatan dan kerinduan Anda terhadapnya tidak akan pernah padam. Dengan penuh harap, setiap kali waktu makan tiba, Anda tetap menyiapkan kursi dan piring untuknya—untuk anak atau adik kesayangan Anda itu—sampai Anda menua dan menutup mata.

Itulah potret pilu keluarga Biru Laut setelah ia dihilangkan untuk kedua kalinya dan tidak pernah kembali hingga hari ini.

Bagi keluarga ini, waktu seolah berhenti di tahun 1998; sebuah meja makan yang tenang namun penuh dengan teriakan kerinduan yang tak terdengar. Biru Laut belum pulang, dan mungkin tak akan pernah benar-benar kembali, meninggalkan keluarganya dalam ritual menunggu yang abadi sekaligus menyakitkan. Melalui novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, kita diajak menyadari bahwa bagi mereka yang dihilangkan paksa, kematian bukanlah hal yang paling mengerikan, melainkan kelalaian kita untuk terus mengingat bahwa mereka pernah ada dan berjuang.

Sastra Sebagai Monumen Ingatan

Sumber: Gambar dihasilkan oleh AI (Gemini)

Seringkali kita menganggap novel hanyalah media hiburan, pelarian dari realitas yang membosankan, atau sekadar kumpulan kata indah tanpa makna praktis. Namun, Laut Bercerita membuktikan bahwa sastra memiliki fungsi yang jauh lebih sakral: sebagai arsip emosional. Ketika catatan sejarah resmi di sekolah-sekolah mungkin mengaburkan detail, atau ketika narasi politik mencoba memutihkan dosa masa lalu, sastralah yang maju untuk memberikan "wajah" pada statistik.

Biru Laut bukanlah sekadar deretan huruf di atas kertas. Ia adalah representasi dari idealism yang dipatahkan, dari pemuda-pemuda yang mencintai buku dan diskusi, yang bermimpi tentang Indonesia yang lebih demokratis, namun justru berakhir di ruang-ruang gelap penyiksaan. Novel ini membagi ceritanya menjadi dua bagian: suara Biru Laut yang berbicara dari kedalaman air, dan suara Asmara Jati yang berbicara dari daratan, mewakili mereka yang tertinggal dalam duka yang menggantung.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya memanusiakan korban. Kita tidak hanya diajak melihat mereka sebagai "aktivis", tetapi sebagai seorang anak yang rindu masakan ibunya, sebagai seorang adik yang merindukan bimbingan kakaknya, dan sebagai manusia yang punya ketakutan luar biasa saat menghadapi kegelapan.

Fakta di Balik Fiksi: Mereka yang Belum Pulang

Sumber: Gambar dihasilkan oleh AI (Gemini)

Meja makan kosong di rumah keluarga Biru Laut bukanlah imajinasi liar Leila S. Chudori. Ia adalah cermin dari belasan meja makan nyata di luar sana yang hingga detik ini masih menyisakan ruang hampa. Di dunia nyata, peristiwa ini merujuk pada Penghilangan Paksa Aktivis 1997-1998.

Sejarah mencatat bahwa menjelang jatuhnya rezim Orde Baru, terjadi penculikan terhadap sejumlah aktivis pro-demokrasi. Beberapa dibebaskan dan membawa trauma yang tak tersembuhkan, namun 13 orang lainnya tidak pernah ditemukan rimbanya hingga hari ini. Nama-nama seperti Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, dan sepuluh lainnya masih menjadi tanda tanya besar dalam sejarah Indonesia.

Status "hilang" ini menciptakan jenis duka yang sangat spesifik dan kejam: ambiguous loss atau kehilangan yang ambigu. Keluarga tidak tahu apakah harus mendoakan mereka sebagai orang mati atau terus menyiapkan piring sebagai orang hidup. Tidak ada nisan untuk diziarahi, tidak ada kepastian untuk menutup luka. Inilah alasan mengapa novel ini begitu penting. Ia memaksa kita untuk menengok kembali pada mereka yang dilarung ke dasar laut agar ingatan tentang mereka tidak ikut tenggelam.

Mengapa Kita Harus Membacanya di Tahun 2026?

Sumber: cnnindonesia.com

Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa kita harus terus membahas kejadian yang sudah lewat hampir tiga dekade lalu?". Jawabannya sederhana: karena keadilan belum benar-benar tegak.

Hingga tahun 2026 ini, setiap hari Kamis, kita masih bisa melihat para orang tua yang sudah renta berdiri di depan Istana Negara dengan payung hitam mereka. Aksi Kamisan adalah bukti nyata bahwa luka 98 belum mengering. Membaca Laut Bercerita adalah cara kita, generasi hari ini, untuk ikut memayungi mereka.

Jika kita berhenti membicarakan mereka, maka para penculik dan dalang di balik tragedi tersebut telah memenangkan perang yang sebenarnya—yaitu perang menghapus memori kolektif bangsa lalu kembali melakukan hal yang serupa untuk melindungi kepentingannya. 

Dan anda harus ingat jika kejadian itu pernah dilakukan dan berhasil, bukan tidak mungkin penghilangan serupa akan terjadi lagi. 

Menolak Lupa Melalui Sastra


Sumber: Digenerated oleh AI (Gemini)

Novel ini secara gamblang menggambarkan siksaan fisik yang dialami para aktivis; disetrum, ditidurkan di atas balok es, hingga intimidasi mental yang menghancurkan harga diri. Namun, bagian yang paling menyayat hati justru bukan saat penyiksaan itu terjadi, melainkan saat para penyintas harus melanjutkan hidup dengan beban rasa bersalah karena mereka selamat, sementara kawan mereka tidak.

Melalui karakter Asmara Jati, kita belajar tentang ketegaran perempuan. Bagaimana seorang adik harus menguatkan orang tuanya yang perlahan "gila" karena harapan yang mustahil. Asmara mewakili logika dan keberanian untuk terus mencari kebenaran meski tembok kekuasaan begitu tinggi dan tebal.

Kita perlu memahami bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini—kebebasan kita menulis di blog, kebebasan kita mengkritik pemerintah di media sosial—dibayar dengan nyawa dan air mata orang-orang seperti Biru Laut. Setiap lembar novel ini adalah pengingat bahwa kebebasan tidak datang secara gratis.

Matilah Engkau Mati, Kau Akan Lahir Berkali-kali

"Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali..."

Sumber: Digenerate oleh AI (Chat GPT)

Kutipan tersebut menjadi ruh dari keseluruhan cerita. Biru Laut boleh saja ditenggelamkan dengan kaki terikat beton di dasar Samudra Hindia. Namun, pikirannya, keberaniannya, dan cintanya pada negeri ini lahir kembali setiap kali seseorang membuka buku ini dan membacanya.

Membaca Laut Bercerita adalah sebuah pernyataan sikap. Bahwa kita menolak menjadi bangsa yang amnesia. Bahwa kita peduli pada kemanusiaan melampaui kepentingan politik sesaat. Dan bahwa kita berjanji pada 13 orang yang hilang itu: kalian tidak akan pernah benar-benar hilang selama kami masih mengingat nama kalian.

Mari kita pastikan kursi di meja makan itu tidak benar-benar kosong. Mari kita isi dengan keberanian untuk terus menuntut kebenaran. Karena pada akhirnya, laut mungkin bisa menyembunyikan jasad, tapi ia tidak akan pernah bisa menenggelamkan kebenaran.

Laut Becerita
Novel Laut Bercerita