Minggu, 17 Mei 2026

thumbnail

Merayakan Absurditas Jiwa: Sinopsis Kafka on the Shore yang Membujuk Akal Sehat Anda untuk Bolos Kerja

 


Ada sebuah titik dalam hidup di mana Anda membaca sebuah buku bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menantang kewarasan diri sendiri. Haruki Murakami, maestro realisme magis asal Jepang, adalah pria yang bertanggung jawab atas hilangnya batas antara kenyataan dan mimpi tersebut. Melalui mahakaryanya, Kafka on the Shore (Kafka di Tepi Pantai), ia menyajikan sebuah labirin narasi yang begitu indah, mesum, filosofis, sekaligus membingungkan.

Jika Anda mencari cerita dengan plot linier yang patuh pada hukum fisika SMA, silakan letakkan artikel ini dan kembalilah membaca buku teks ekonomi. Namun, jika Anda siap menerima kenyataan bahwa lele bisa jatuh dari langit dan kucing bisa bergosip tentang politik, mari kita menyelam ke dalam sinopsis yang (berusaha) formal, namun tetap nakal ini.


Dua Jiwa, Dua Pelarian, Satu Takdir yang Absurd

Kafka on the Shore bergerak dalam dua narasi paralel yang bergantian di setiap bab. Seperti sepasang kekasih yang canggung di lantai dansa, kedua cerita ini tidak pernah benar-benar bersentuhan secara fisik, namun mereka berdansa dalam irama yang persis sama.

Bagian I: Remaja 15 Tahun Paling Tangguh di Dunia

Di satu sisi, kita berkenalan dengan Kafka Tamura. Nama "Kafka" tentu saja bukan nama aslinya, melainkan nama samaran yang ia pilih sebagai penghormatan kepada Franz Kafka—penulis yang sama-sama gemar menyiksa karakternya dengan situasi absurd. Kafka adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang memutuskan untuk kabur dari rumahnya di Tokyo pada hari ulang tahunnya.

Alasan kaburnya? Bukan karena ia malas mengerjakan PR Matematika, melainkan karena sebuah kutukan Oedipal yang dijatuhkan oleh ayahnya sendiri, seorang pematung terkenal yang agaknya memiliki masalah kejiwaan serius. Sang ayah meramalkan bahwa Kafka kelak akan membunuh ayahnya dan meniduri ibu serta kakak perempuannya. Sebuah ramalan klasik ala Yunani Kuno yang dibawa ke Jepang abad ke-21 dengan bumbu kecemasan eksistensial remaja puber.

Kafka melarikan diri ke kota pelabuhan Takamatsu, berlindung di sebuah perpustakaan swasta yang sunyi dan magis bernama Perpustakaan Komura. Di sinilah ia bertemu dengan Oshima, seorang pustakawan intelektual yang gender-fluid, dan Miss Saeki, perempuan paruh baya misterius pengelola perpustakaan yang tampaknya memegang kunci dari seluruh misteri jagat raya—atau setidaknya, kunci dari fantasi Oedipal Kafka.

Bagian II: Pria Tua yang Bisa Berbincang dengan Kucing

Di sisi lain, kita diperkenalkan dengan Satoru Nakata. Jika Kafka adalah personifikasi dari beban masa muda yang meledak-ledak, Nakata adalah kebalikannya: seorang pria tua yang damai, polos, dan mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai orang yang "bodoh". Akibat sebuah insiden misterius di masa perang dunia saat ia masih kecil (yang melibatkan cahaya aneh di langit dan hilangnya kesadaran massal satu kelas), Nakata kehilangan kemampuan membaca dan menulis, bahkan sebagian ingatannya terhapus bersih.

Namun, alam semesta selalu adil dalam hal-hal yang tidak masuk akal. Sebagai ganti dari kecerdasannya yang hilang, Nakata diberi kemampuan untuk berbicara dengan kucing. Ia menjalani hari-harinya sebagai pensiunan di Tokyo, bekerja sampingan sebagai detektif spesialis menemukan kucing hilang.

Kehidupan Nakata yang tenang berubah drastis ketika pencariannya terhadap seekor kucing membawanya bertemu dengan sosok mengerikan bernama Johnnie Walker (ya, dia berpakaian persis seperti logo wiski terkenal itu, lengkap dengan topi tinggi dan sepatu botnya). Pertemuan berdarah dengan Johnnie Walker memaksa Nakata untuk pertama kali dalam hidupnya keluar dari distrik tempat tinggalnya, melakukan perjalanan panjang ke Shikoku menggunakan truk logistik, ditemani oleh seorang sopir truk muda berhati emas bernama Hoshino.


Ketika Logika Memilih untuk Angkat Kaki

Apa yang terjadi ketika kedua alur cerita ini mulai mendekat? Murakami mulai melepaskan seluruh rem logikanya. Anda akan disuguhi rangkaian peristiwa yang jika diceritakan kepada psikiater, akan membuat Anda langsung diberi resep obat penenang dosis tinggi.

"Pikiran kita adalah sebuah kamar gelap di mana kita harus berhati-hati agar tidak salah menyalakan lampu, atau sesuatu yang lama tersembunyi akan melompat keluar."

Di paruh kedua novel, batas antara dunia nyata dan dunia bawah (atau dunia mimpi) mulai menipis. Nakata, dengan kepolosannya yang magis, berhasil membuka "batu pintu masuk" ke dimensi lain. Sementara itu, Kafka di perpustakaan mulai mengalami erosi realitas. Ia mendapati dirinya terlibat dalam hubungan yang secara psikologis dan erotis sangat membingungkan dengan Miss Saeki—yang mungkin, atau mungkin bukan, ibu kandung yang membuangnya saat kecil.

Jangan lupakan pula kehadiran tokoh-tokoh pendukung yang nakal dan mengganggu kewarasan, seperti:

  • Colonel Sanders: Ikon ayam goreng KFC yang beralih profesi menjadi germo spiritual yang membantu Hoshino menemukan batu gaib. Kenapa Colonel Sanders? Karena menurutnya, tuhan atau konsep abstrak perlu mewujud dalam bentuk yang mudah dikenali masyarakat konsumen modern.

  • Gagak bernama 'Crow': Manifestasi dari alter-ego Kafka yang terus memberikan nasihat-nasihat sinis di dalam kepalanya.


Mengapa Anda Harus Merasa Penasaran? (Secara Implisit)

Ada sebuah alasan mengapa novel ini tetap menjadi perbincangan bertahun-tahun setelah diterbitkan. Murakami tidak sedang menulis cerita detektif di mana di halaman terakhir sang penjahat akan ditangkap dan semua misteri terpecahkan dengan rapi. Tidak, Kafka on the Shore tidak peduli pada kepuasan instan Anda.

Buku ini memegang sebuah rahasia besar tentang bagaimana memori bekerja. Mengapa Nakata kehilangan ingatannya? Apa yang sebenarnya terjadi di hutan angker di belakang perpustakaan, di mana dua tentara Angkatan Darat dari Perang Dunia II masih berpatroli tanpa menua satu hari pun? Dan yang paling penting: apakah Kafka pada akhirnya berhasil lolos dari kutukan ayahnya, atau ia justru menggenapinya dengan cara yang paling tidak terduga di dalam sebuah metafora?

Membaca novel ini rasanya seperti berjalan di tepi pantai pada malam hari tanpa penerangan. Anda tahu ada ombak besar yang siap menggulung Anda (entah itu ombak puitis atau ombak kegilaan), Anda bisa merasakan pasir hisap di bawah kaki Anda, namun Anda tidak bisa berhenti melangkah karena ada melodi melankolis yang terus memanggil dari kegelapan.


Sebuah Ajakan untuk Tersesat

Secara formal, Kafka on the Shore adalah sebuah eksplorasi mendalam tentang takdir, trauma masa kecil, dan pencarian identitas yang dibungkus dalam teori psikoanalisis dan musik klasik (khususnya Sonata Archduke karya Beethoven). Secara informal dan sedikit nakal, ini adalah kisah tentang seorang remaja yang terlalu banyak berpikir, seorang pria tua yang terlalu sedikit berpikir, dan bagaimana dunia menolak untuk runtuh ketika keduanya mencoba memperbaiki takdir masing-masing dengan bantuan pelacur yang mengutip filsafat Hegel.

Jika Anda merasa hidup Anda belakangan ini terlalu lurus, membosankan, dan didikte oleh algoritma yang kaku, mungkin ini saatnya Anda membiarkan Haruki Murakami mengacak-acak isi kepala Anda. Buku ini tidak menjanjikan Anda akan menjadi lebih pintar setelah membacanya. Namun, satu hal yang pasti: setelah menutup halaman terakhir, Anda tidak akan pernah memandang seekor kucing hitam di jalanan dengan cara yang sama lagi.

Jadi, beranikah Anda berjalan ke tepi pantai itu dan membiarkan badai metafisika menghantam Anda?

Jumat, 03 April 2026

thumbnail

Cara Mengurangi Paparan Short Video Ala Tiny Habit

​Video pendek berdurasi 15 detik mungkin terasa menghibur, namun tanpa sadar ia bisa menjadi "racun" bagi produktivitas kita. Fenomena ini sering disebut dengan istilah brainrot—sebuah kondisi di mana rentang perhatian kita menyusut karena terus-menerus disuapi kepuasan instan (instant reward).

​Akibatnya, kita menjadi sulit fokus, tidak sabaran, dan enggan melewati proses yang lama. Untuk mengatasinya, kita bisa menerapkan metode dari buku Tiny Habits karya BJ Fogg melalui rumus B=MAP (Behavior = Motivation, Ability, Prompt).

​1. Bangun Motivasi: Sadari Kerugiannya

​Perubahan perilaku dimulai dari kesadaran. Motivasi adalah modal awal. Jika Anda tidak meyakini bahwa kecanduan short video merusak fokus Anda, maka akan sulit untuk berhenti. Namun ingat, motivasi saja tidak cukup karena ia sering naik-turun.

​2. Perkecil Kemampuan (Persulit Akses)

​Dalam prinsip Tiny Habits, perubahan harus dilakukan semudah mungkin. Untuk menghentikan kebiasaan buruk, kita harus melakukan sebaliknya: membuatnya menjadi sulit dilakukan.

Contoh Praktis:

  • Tunda satu menit: Saat ingin membuka aplikasi, paksa diri menunggu 60 detik.
  • Letakkan ponsel jauh dari jangkauan: Meletakkan ponsel di meja seberang menciptakan rintangan fisik 5 detik yang bisa memutus dorongan impulsif Anda.

​3. Gunakan Teknik "Menumpuk Kebiasaan" (Habit Stacking)

​Jangan mencoba menghilangkan kebiasaan lama secara paksa, tapi tumpuklah dengan kebiasaan baru yang sangat kecil.

Contoh: "Setelah saya membuka ponsel, saya akan menulis satu kata di draf blog saya sebelum membuka Instagram/TikTok."

Targetnya bukan langsung berhenti total, tapi memberikan jeda positif agar durasi menonton perlahan berkurang.

​4. Identifikasi dan Ubah Dorongan (Prompt)

​Apa yang membuat Anda ingin menonton? Biasanya adalah rasa bosan saat menunggu atau saat sedang lelah bekerja.

  • Ubah respons: Jika rasa bosan muncul, ganti perilaku "buka video" dengan "push-up satu kali" atau "minum segelas air". Perubahan kecil ini secara bertahap memutus sirkuit kecanduan di otak Anda.

​Kesimpulan

​Efek domino dari video 15 detik bisa merusak jam-jam produktif kita. Namun, dengan menumpuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang positif, kita bisa merebut kembali kendali atas waktu dan pikiran kita. Mari mulai dari satu perubahan kecil hari ini.

Kamis, 26 Maret 2026

thumbnail

Ulasan Buku Tiny Habit: Resep Berubah Telah Ditemukan


Kita adalah apa yang kita lakukan, bahkan sekecil apa pun itu. Meski hanya "ngupil" di tempat umum, hal itu memiliki pengaruh bagi citra Anda. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap detik dan kita ulang seumur hidup akan menciptakan identitas bagi kita. Maka, mengubah kebiasaan kecil berarti mengubah identitas kita secara keseluruhan.

Jika di pagi hari Anda sudah memikirkan beratnya menjalani hidup, mungkin identitas Anda adalah orang yang pesimistis. Jika Anda berpikiran "jorok" setelah melihat artis seksi, mungkin Anda mesum, hehehe. Jika Anda suka mengumpat pejabat, mungkin Anda memang tinggal di Indonesia.

Bisakah kita mengubah kebiasaan? Yang artinya, bisakah kita mengubah siapa diri kita? Jawabannya tentu bisa, bahkan sangat mudah dan sederhana—semudah membalik telapak tangan. Prinsip dasar yang harus kita pegang dalam mengubah kebiasaan adalah: harus menyenangkan (fun) dan tidak membuat kita tertekan.

1. Mulailah dari Hal yang Paling Kecil dan Remeh

Kebiasaan yang paling kita remehkan itulah yang justru paling mungkin kita lakukan. Memilih makan sayur lodeh daripada telur rebus adalah kebiasaan remeh-temeh, tapi kebiasaan itulah yang akan membentuk diri kita; apakah akan melahirkan tubuh sehat atau tubuh penyakitan.

Jika selama ini Anda gagal membangun kebiasaan baru, bisa jadi karena targetnya terlalu sulit. Contohnya: Anda ingin membiasakan push-up 100 kali dalam sehari. Namun, Anda tidak pernah melakukannya karena otak sudah mencatatnya sebagai beban yang berat. Maka, dari target 100 itu, potonglah hingga tersisa dua kali push-up saja per hari.

Karena hanya dua kali, pasti tidak akan terasa berat. Pelan-pelan Anda bisa meningkatkannya, tapi jangan terburu-buru.

2. Mencari "Jangkar"

Sebagai manusia, kita sebenarnya sudah memiliki seperangkat kebiasaan yang dijalankan secara sadar maupun tidak sadar. Pagi hari kita mandi, lalu sarapan, salat, dan mungkin sehabis makan kita merokok. Itu semua adalah kebiasaan yang terbentuk secara alami.

"Jangkar" adalah tanda yang berasal dari kebiasaan yang sudah ada. Kita menjadikannya tumpuan untuk memicu kebiasaan baru. Rumusnya: Setelah kebiasaan A, maka saya akan melakukan kebiasaan B.

Contohnya: "Setelah makan siang, saya akan membaca buku satu paragraf." Makan siang adalah jangkarnya, dan membaca satu paragraf adalah kebiasaan barunya. Kebiasaan membaca ini pun nantinya bisa menjadi jangkar untuk kebiasaan baru lainnya yang bisa kita tumpuk sebanyak yang kita mau.

3. Rayakan Keberhasilan Kecil (Shine)

BJ Fogg menyebutnya "Shine". Ia menggunakan istilah ini karena tidak ada padanan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan senang setelah melakukan kebiasaan kecil.

Shine erat kaitannya dengan imbalan (reward) yang kita dapatkan. Reward ini harus didapatkan tepat setelah melakukan kebiasaan tersebut. Memberikan hadiah yang jauh dari waktu pelaksanaan tidak akan berdampak pada kelanjutan kebiasaan, karena otak kita menyukai kepuasan instan.

Lalu, bagaimana cara merayakan Shine? Cukup berikan rasa puas kepada diri sendiri. Anda bisa mengucapkan syukur setelah push-up dua kali, berteriak "Yes!", atau membayangkan diri Anda bertambah pintar setelah membaca satu paragraf. Intinya adalah memberikan penghargaan kecil yang langsung dirasakan saat itu juga.

4. Berubah Bersama


Membantu orang lain melakukan apa yang ingin mereka lakukan adalah materi penting dalam perubahan perilaku. Dengan membantu orang di sekitar kita berubah, kita pun ikut berubah karena sering kali kita bergerak dalam sebuah kelompok.

Melakukan perubahan secara berkelompok hampir sama dengan individu, bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung:

  • Secara Langsung: Anda dan kelompok secara sadar mengidentifikasi perilaku yang perlu ditambahkan untuk mencapai aspirasi tertentu. Mulailah dengan menentukan tujuan bersama, lalu lakukan brainstorming perilaku apa saja yang mendukung tujuan tersebut. Dari sana, pilihlah perilaku yang paling berdampak namun paling mungkin dilakukan.

  • Secara Tidak Langsung: Anda bisa menjadi pemimpin yang memahami metode Tiny Habits ini untuk mengarahkan kelompok, atau bahkan mengubah orang lain secara "diam-diam" melalui desain lingkungan.


Tini Habit (BJ. FOGG)

Metode ini membedah perubahan perilaku dengan pendekatan yang mudah. Artinya, perubahan harus dilakukan sesederhana dan semenyenangkan mungkin. Ketika kita gagal menciptakan suatu kebiasaan, kegagalan itu tidak boleh meninggalkan trauma atau rasa tidak nyaman. Jika tidak menyenangkan, proses pembentukan kebiasaan tidak akan berjalan dengan baik.

Jumat, 20 Maret 2026

thumbnail

The Psychology of Money: Hidup Itu Seperti Kasino


The Psychology of Money karya Morgan Housel lebih mengedepankan bagaimanakah kekayaan itu mengalir. Melalui pelajaran dari buku Morgan Housel ini, kita mempelajari aliran uang itu dari hulu ke hilir. Bekerja keras seperti unicorn adalah cara mendapatkan kekayaan, namun bekerja keras saja tidak cukup. Ada faktor yang lain, faktor yang bahkan kerja keras pun bisa dikalahkan dengan mudah: keberuntungan.

Mendapatkan kekayaan dengan bekerja keras adalah hal yang harus dilakukan, namun mempertahankannya adalah skill atau keahlian yang lain lagi. Mempertahankan kekayaan bisa sama sulitnya dengan mendapatkan kekayaan. Namun ada satu hal yang membuat mendapatkan uang dan mempertahankan uang sama: keduanya butuh keberuntungan.

Uang Bergerak Sesuai dengan Pemiliknya

Saya memiliki tetangga seorang penjudi. Setiap kali memiliki uang menganggur, selalu dia depositkan untuk judi online. Menurut pengakuannya dia selalu untung, namun di saat yang sama dia terus-menerus deposit. Ternyata banyak orang yang memiliki kebiasaan berjudi seperti ini. Apakah yang dia lakukan salah? Sebagian besar dari kita pasti akan menyalahkan, tapi tunggu dulu. Salah dan benar dalam kasus ini sangat relatif.

Dalam psikologi uang, kita semua dibesarkan pada lingkungan dan pendidikan yang beragam. Pemahaman kita mengenai uang pun tidak kalah beragamnya. Sesuatu yang kita katakan salah, bisa jadi benar bagi orang lain. Yang harus kita pahami adalah jangan terlalu cepat memvonis salah pada cara orang memperlakukan uang.

Para penjudi mungkin berpikir tidak ada cara yang lebih mudah untuk kaya selain berjudi. Jika dia menyisihkan Rp400.000 per bulan untuk reksadana pasar uang, kemungkinan akan menjadi Rp5 juta lebih di akhir tahun. Namun, berjudi memberikan harapan bagi orang miskin untuk keluar dari kemiskinannya karena mereka tidak bisa memikirkan cara yang lebih cepat. Mengapa orang miskin berjudi menurut psikologi sering kali karena mereka merasa itulah satu-satunya "tiket" untuk menang besar. Kelakuan ini mungkin absurd bagi kita, namun masuk akal bagi mereka. Sebaliknya, kelakuan kita yang membeli obligasi negara bisa sama absurdnya bagi mereka. Jadi, jangan menjustifikasi bahwa Anda pemegang metode manajemen keuangan yang paling benar.

Selalu Ada Peran Keberuntungan di Hidupmu

Saya suka kisah Bill Gates dan Lakeside School dalam membangun Microsoft. Mengapa harus Bill Gates? Salah satu jawabannya adalah peran keberuntungan dalam kekayaan. Bill Gates beruntung bersekolah di Lakeside, satu-satunya sekolah yang memiliki komputer pada tahun 1968. Jika Bill Gates bersekolah di SMA Negeri di Indonesia pada tahun itu, saya yakin tidak akan ada Microsoft. Dari 303 juta siswa di dunia, dia memiliki akses langka tersebut.

Gates mengutak-atik komputer bersama temannya, Kent Evans, yang sama jeniusnya. Namun, Evans tidak seberuntung Gates; ia meninggal dalam kecelakaan pendakian gunung. Evans mengalami ketidakberuntungan yang menghentikan kariernya. Jika Anda memiliki investasi saham yang bagus hari ini, jangan sombong. Mungkin Anda memang hebat, tapi jelas ada faktor keberuntungan yang menyertai Anda. Ini membuat kita lebih menghargai kegagalan orang lain; mungkin mereka hanya tidak beruntung.

Compounding Segala Hal: Rahasia Warren Buffett

Dalam buku ini, ada sistem yang membuat Warren Buffett menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia. Kekayaannya sebagian besar didapatkan setelah usia 50 tahun melalui compounding interest atau bunga berbunga. Buffett berinvestasi sejak usia 11 tahun dengan imbal hasil sekitar 20% per tahun yang terus ia gulung.

Cara kerja compounding interest adalah menciptakan efek bola salju. Sebagai ilustrasi, jika Anda punya Rp100.000.000 di reksadana obligasi dengan return 10% per tahun dan meng-compound hasilnya selama 10 tahun, uang Anda menjadi Rp259.374.246. Anda mendapatkan imbal hasil lebih dari 100% hanya dengan bersabar. Inilah kekuatan investasi untuk pemula yang paling dasar: waktu.

Dunia Itu Seperti Dadu: Sejarah Mencatat Angka Tapi Tidak Bisa Meramal

Manusia mempelajari masa lalu untuk meramalkan masa depan, namun masa depan berjalan dengan hukumnya sendiri. Kita sering terjebak delusi bahwa pola masa lalu akan terulang. Morgan Housel mengingatkan bahwa ekonomi tidak seperti ilmu fisika. Dalam keuangan, peristiwa tak terduga atau Black Swan bisa menghapus semua prediksi dalam semalam.

Oleh karena itu, strategi terbaik dalam literasi keuangan bukanlah menjadi peramal akurat, melainkan menjadi orang yang paling siap menghadapi ketidakpastian dengan memiliki margin of error.

Antara Kerendahan Hati dan Kesabaran

Pada akhirnya, mengelola uang ternyata lebih banyak soal psikologi daripada matematika. Menjadi kaya mungkin butuh keberanian, namun tetap kaya membutuhkan kombinasi antara kerendahan hati dan kesabaran. Kita harus cukup rendah hati untuk mengakui bahwa keberuntungan berperan besar, sehingga kita tidak sombong saat di atas dan tidak putus asa saat di bawah.

Dalam rangkuman buku The Psychology of Money ini, pesan terpentingnya adalah biarkan compounding bekerja dalam diam. Jangan biarkan ego merusak rencana jangka panjang. Karena kekayaan yang paling bernilai adalah kemampuan untuk tidur nyenyak di malam hari tanpa perlu cemas tentang apa yang akan dilemparkan oleh dadu kehidupan esok pagi.

Senin, 16 Maret 2026

thumbnail

Terimalah, Anda Bukan Main Character-nya



Di bab ketiga buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ini, kita akan disuguhkan sebuah kenyataan yang paling pahit: bahwa kita ini bukan orang yang spesial. Sebagian besar manusia di seluruh dunia adalah manusia biasa, termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini. Jika Anda merasa bahwa Anda istimewa atau orang terpilih, sebenarnya tidak. Anda biasa saja, seperti orang-orang di jalan yang Anda temui.

​Fiksi, film, dan media selalu menampilkan hero untuk dijual. Seolah dunia berpusat pada mereka, dan akhirnya otak Anda meyakini bahwa itu juga berlaku bagi Anda. Seolah Anda adalah hero bagi semua orang dan dunia ini diciptakan untuk Anda taklukkan. Padahal, Anda bukan siapa-siapa untuk mendapatkan atensi sebesar itu. Anda bukan Main Character-nya; Anda adalah NPC-nya.

Jika semua orang istimewa, maka tidak ada yang istimewa. Jadi, yang istimewa adalah orang yang (berani) tidak istimewa.

​Tirani keistimewaan sudah menjajah otak Anda. Kita menganggap bahwa kita ini istimewa dan mampu menaklukkan dunia. Ketika kita sadar bahwa kita tidak istimewa, kita akan sedih, frustrasi, dan merasa perlu dikasihani—yang justru membuat kita menuntut untuk diperlakukan istimewa. Artinya, Anda playing victim untuk diistimewakan.

​Anda tidak istimewa dan Anda bukan sosok yang patut diistimewakan. Anda mungkin cuma NPC lalu-lalang yang dibrondong AK-47 oleh CJ (tokoh utama GTA San Andreas).

​Rasa istimewa biasanya menciptakan "rasa berhak" (entitlement) terhadap banyak hal, padahal Anda tidak punya kapasitas untuk itu. Untuk menjadi istimewa, ada dua caranya: Anda dilahirkan sebagai orang yang istimewa, atau Anda berjuang dengan membabi buta untuk mendapatkan keistimewaan itu.

​Sayangnya, tidak banyak orang yang benar-benar lahir penuh dengan keistimewaan. Delapan puluh persen manusia adalah orang biasa yang lahir dari keluarga biasa dengan kemampuan yang biasa saja. Jadi, untuk menjadi istimewa, banyak perjuangan yang harus dilalui. Anda harus sadar bahwa Anda tidak berhak diperlakukan spesial; Anda masih butuh berjuang untuk mencapai hal itu.

Dua Orang yang Merasa Harus Diistimewakan

1. Si Hebat yang Gak Hebat-hebat Banget

Sombong itu sifat setan. Dalam terminologi Islam, setan diusir dari surga karena tidak mau bersujud pada Adam; ia merasa lebih hebat dalam segala hal dari Adam. Akhirnya setan mendapatkan ganjarannya: di-banned dari surga untuk selamanya dan menjadi makhluk yang paling dibenci oleh Allah.

​Itulah gambaran mengenai "Si Hebat". Si paling "MC" yang merasa memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jika Anda merasa hebat, biasanya Anda menuntut orang lain untuk mengistimewakan Anda, padahal dunia tidak harus melakukan itu. Ketika Anda pergi ke SPBU, Anda tetap harus mengantre dan tidak berhak menyerobot antrean meskipun Anda adalah seorang presiden.

​Jika Anda memang hebat, jangan merasa bahwa Anda berhak diistimewakan, karena dunia tidak selalu mengakui kehebatan Anda. Ketika merasa paling hebat, Anda akan menganggap orang lain di bawah Anda. Saat mengalami kegagalan, itu menjadi salah orang lain; Anda akan semakin sering menyalahkan orang lain dan tidak ingin memperbaiki diri.

2. Si Paling Lemah yang Paling Tersakiti

Karena tidak memiliki kemampuan untuk menjadi hebat, sekalian saja Anda menjadi yang paling lemah. Orang lemah harus dibantu untuk berdiri, ditenangkan ketika menangis, dan dibantu saat terjatuh. Menjadi yang paling lemah berarti menjadi seseorang yang (merasa) harus selalu dibantu.

​Anda merasa memiliki masalah yang paling berat dan paling unik, sehingga merasa berhak diistimewakan. Padahal, setiap orang punya masalahnya masing-masing, hanya saja mereka tidak seribut "Si Paling Lemah".

​Itu adalah pikiran orang yang narsis karena lemah. Hal semacam ini harus Anda singkirkan dari kepala. Anda harus sadar bahwa semua orang juga punya problem dan hidup yang harus dihadapi. Terjebak pada mentalitas semacam ini tidak akan membuat Anda bahagia.

Menjadi Manusia yang Umum dan Sederhana

​Di game GTA San Andreas, tokoh utama hanya satu, sisanya adalah NPC. Para NPC ini menjalani hidup yang membosankan: keluar rumah, mengobrol, bahkan ditabrak dengan Ferrari oleh CJ. Namun, apa salahnya menjadi NPC?

​Sebagian besar dari kita hidup sebagai manusia pada umumnya dengan sedikit keistimewaan yang tidak terlalu menonjol. Namun, di situlah nikmatnya. Kita tidak harus mendamaikan perang, kita tidak harus memikirkan sistem pendidikan yang rumit, kita tidak harus menjadi superhero yang menyelamatkan dunia hari ini.

​Menikmati persahabatan, lari pagi dan menyapa orang di jalan, serta mengantarkan anak ke sekolah adalah misi kita sehari-hari. Menikmati kehidupan dari hal-hal yang kecil membuat kita bahagia. Kebahagiaan adalah ketika kita menurunkan standar hidup dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Kita bodo amat dengan pencapaian orang lain dan fokus pada hal-hal kecil yang bisa kita dapatkan dengan mudah.

​Inti dari bab ini adalah kita harus menerima diri kita bahwa kita tidak istimewa, dan itu bukan masalah. Media sosial hanya menyoroti orang-orang yang dianggap spesial, padahal media sosial adalah tempat orang menciptakan ilusi mengenai dirinya. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di kehidupan nyata orang tersebut. Begitu juga orang lain tidak tahu bagaimana kehidupan Anda di luar media sosial, padahal keduanya tidak jauh berbeda.

​Kita sama-sama merasakan ketidakbahagiaan pada titik tertentu, dan kebahagiaan pada saat yang lain. Jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai standar, namun jadikanlah dirimu sendiri sebagai pijakan untuk hidup. Karena kita hidup pada ekosistem yang berbeda dengan masalah yang berbeda, itulah yang membuat kita sama.

Jumat, 13 Maret 2026

thumbnail

Mark Manson: Perang adalah Satu Masalah tapi Tidak Menerima Perang = Dua masalah



Beberapa waktu ini Trump, bocah yang sedang cari perhatian, menyedot atensi seluruh dunia dengan pernyataannya yang seperti remaja labil. Sebentar-sebentar ingin dapat Nobel Perdamaian, besoknya menculik Presiden Venezuela, lalu membunuh pemimpin Iran. Melihatnya di YouTube seperti melihat anak kecil bad mood yang memegang remote peluncur roket.

Internet terus saja memenuhi perhatian kita dengan berita-berita buruk. Perang menjadi salah satu bintang model yang sedang naik daun. Tiada hari tanpa berita roket tipe A, B, C yang sedang diluncurkan atau pemandangan asap dan gedung-gedung yang roboh. Seolah kita semakin dekat dengan pernyataan Einstein ini:

"Saya tidak tahu dengan senjata apa Perang Dunia III akan diperjuangkan, tetapi Perang Dunia IV akan diperjuangkan dengan tongkat dan batu."

Pernyataan ini cukup membuat bulu kuduk berdiri karena perang itu pelan-pelan sudah terjadi. Dan kita semua berdoa agar tidak pernah terjadi dan bisa kembali bermain Roblox dengan nyaman.

Terimalah Jika Langit Itu Biru dan Ternyata Itu Bukan Langit



Apakah Anda tahu bahwa warna biru di langit itu bukan langit yang sebenarnya? Warna biru itu merupakan batasan penglihatan Anda. Artinya, mata Anda tidak bisa melihat lebih jauh lagi. Dan kita tidak pernah mempermasalahkan langit biru itu, padahal itu memperlihatkan kelemahan kita.

Terimalah kelemahan Anda. Terimalah bahwa Anda memang tidak setampan boyband Korea, atau Anda tidak sepopuler Fajar Sadboy ataupun Reza Rahadian. Atau terimalah bahwa gaji Anda tidak lebih tinggi dari pegawai SPBU yang tidak membutuhkan ijazah S1. Terimalah bahwa Anda bukan pusat dunia; Anda ternyata tidak lebih dari NPC bagi tetangga atau bahkan presiden kita.

Mengakui bahwa banyak hal yang tidak bisa kita lakukan, meskipun itu menyakitkan, tapi itu baik untuk Anda. Hal ini seperti menelan pil yang terasa pahit, namun pil itu menyembuhkan Anda. Dengan melihat kelemahan kita, kita melihat diri kita secara utuh karena kebanyakan dari kita tidak mau melihat diri kita sendiri secara utuh. Kita cenderung tidak menerima bahwa kita ini makhluk dengan beribu kelemahan.

Jika rudal Amerika sampai di kamar tamu, Anda tidak akan banyak hal yang bisa kita lakukan pada saat itu. Tidak banyak hal itulah yang harus kita lakukan (mungkin cuma lari) dan itu memang kelemahan kita. Kita tidak bisa serta-merta terbang ke Amerika dan memaki-maki Donald Trump atau pergi ke Palestina dan mensmash seluruh roket yang mencoba meratakan Gaza.

Kita adalah makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Karena banyak orang menderita karena tidak mengakui keterbatasannya sehingga dia mencoba melawan keterbatasan itu. Melawan keterbatasan bisa menjadi kisah yang heroik, tapi sebelum melawan, Anda harus menerima dan mengakui keterbatasan itu.

Kita harus terima jika perang terjadi dan merusak sendi-sendi ekonomi. Seperti langit biru, terimalah keterbatasan mata kita dalam melihat langit yang biru karena di balik langit biru itu ada bintang-bintang indah yang bertebaran.

Pilih Masalah Anda: Kebahagiaan Datang dari Menyelesaikan Masalah

Ada seorang teman yang mengatakan kepada saya, "Masalah adalah apa yang Anda anggap masalah." Masalah itu kita sendiri yang menentukan. Jika kita menganggap Maria Vania yang jarang muncul di YouTube sebagai masalah, maka itulah masalah Anda. Jika Anda merasa celana hitam Anda tidak selaras dengan kemeja ungu Anda, maka itu adalah masalah Anda, bukan masalah saya.

Perang ini pasti sebuah masalah entah bagi siapa pun itu: baik yang terdampak maupun yang tidak. Tapi kita juga bisa memilih perang ini jenis masalah yang seperti apa. Ingat, kita ini hanya NPC; para superhero berjas hitam di TV-lah yang harus menghentikan perang.

Sebagai NPC dalam drama perang ini, kita tidak bisa melakukan banyak dalam perang ini. Namun, kita tokoh utama dalam permainan kita sendiri. Fokus pada permainan yang kita pilih. Jika kalian memilih menjadi aktor perang, maka terimalah segala konsekuensi yang mengikuti. Namun, jika kalian memilih menjadi tokoh sampingan, ya yang penting kalian menjalankan tugas kalian.

Menjadi juru selamat perang akan sangat sulit bagi saya yang seorang guru SMA dengan gaji tidak lebih dari satu juta per bulan. Ini permainan yang membutuhkan tenaga yang sangat banyak, dan akan mengorbankan area bermain saya yang lain: seperti ayah yang baik, suami yang selalu memiliki waktu, dll. Permainan ini bukan untuk saya, namun jika mengurus rumah atau pergi ke bengkel untuk servis motor, itu adalah permainan yang mudah bagi saya.

Carilah lawan atau masalah yang mudah untuk dikalahkan. Jika mencari lawan yang susah ditaklukkan, Anda akan frustrasi dan tidak bahagia karena kebahagiaan itu datang dari memecahkan masalah. Kalau Anda tidak bisa mendamaikan perang, maka jangan pilih permainan itu. Kalau yang bisa Anda lakukan adalah menyumbang uang maupun doa, tidak ada salahnya.

Emosi adalah Kompas, Bukan Tujuan

Melihat Trump berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk membuat kita geram. Sebenarnya, apa tujuan orang ini? Sangat menyebalkan melihat "bocah" berambut putih ini mengacak-acak tatanan internasional; mulai dari tarif dagang, sanksi, dan segala tetek bengeknya. Belum lagi negara kita sendiri, yang dipenuhi pejabat dengan arah kebijakan yang semakin hari semakin absurd.

Media sosial seolah terus memancing emosi kita, seakan dunia akan segera mencapai titik klimaks kehancurannya.

Namun, perlu diingat: semua emosi itu adalah alarm. Alarm yang menunjukkan arah bahaya, bukan tujuan akhir. Merasa takut bukanlah garis finis. Rasa takut pada perang atau ketidakstabilan ekonomi hanyalah kompas bagi kita untuk bergerak. Ia ada agar kita semakin sadar dan memberikan arti yang lebih mendalam pada orang-orang yang kita sayangi yang berada di sekitar kita.

Jika dunia memang sedang menuju kehancuran, bukankah itu alasan terkuat bagi Anda untuk berhenti bertengkar dengan istri karena cucian kotor? Bukankah itu alasan untuk lebih sering memeluk anak Anda daripada membalas komentar toxic di internet?

Gunakan alarm itu untuk bangun, bukan untuk terus meringkuk dalam ketakutan.

Di sini kita belajar menerima segala hal yang membuat kita tidak nyaman: masalah, emosi, kelemahan, dan semua hal yang mengganggu kita, termasuk kondisi dunia yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Kita belajar terus bergerak di jalur kita. Meskipun kita tidak bisa menghentikan perang, namun langkah kecil kita dalam melipat baju, menerima diri sebagai NPC dalam drama perang ini, atau mengirimkan doa untuk korban perang, mungkin akan mengurangi kekacauan dunia meskipun sedikit.