Senin, 16 Maret 2026

thumbnail

Terimalah, Anda Bukan Main Character-nya



Di bab ketiga buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ini, kita akan disuguhkan sebuah kenyataan yang paling pahit: bahwa kita ini bukan orang yang spesial. Sebagian besar manusia di seluruh dunia adalah manusia biasa, termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini. Jika Anda merasa bahwa Anda istimewa atau orang terpilih, sebenarnya tidak. Anda biasa saja, seperti orang-orang di jalan yang Anda temui.

​Fiksi, film, dan media selalu menampilkan hero untuk dijual. Seolah dunia berpusat pada mereka, dan akhirnya otak Anda meyakini bahwa itu juga berlaku bagi Anda. Seolah Anda adalah hero bagi semua orang dan dunia ini diciptakan untuk Anda taklukkan. Padahal, Anda bukan siapa-siapa untuk mendapatkan atensi sebesar itu. Anda bukan Main Character-nya; Anda adalah NPC-nya.

Jika semua orang istimewa, maka tidak ada yang istimewa. Jadi, yang istimewa adalah orang yang (berani) tidak istimewa.

​Tirani keistimewaan sudah menjajah otak Anda. Kita menganggap bahwa kita ini istimewa dan mampu menaklukkan dunia. Ketika kita sadar bahwa kita tidak istimewa, kita akan sedih, frustrasi, dan merasa perlu dikasihani—yang justru membuat kita menuntut untuk diperlakukan istimewa. Artinya, Anda playing victim untuk diistimewakan.

​Anda tidak istimewa dan Anda bukan sosok yang patut diistimewakan. Anda mungkin cuma NPC lalu-lalang yang dibrondong AK-47 oleh CJ (tokoh utama GTA San Andreas).

​Rasa istimewa biasanya menciptakan "rasa berhak" (entitlement) terhadap banyak hal, padahal Anda tidak punya kapasitas untuk itu. Untuk menjadi istimewa, ada dua caranya: Anda dilahirkan sebagai orang yang istimewa, atau Anda berjuang dengan membabi buta untuk mendapatkan keistimewaan itu.

​Sayangnya, tidak banyak orang yang benar-benar lahir penuh dengan keistimewaan. Delapan puluh persen manusia adalah orang biasa yang lahir dari keluarga biasa dengan kemampuan yang biasa saja. Jadi, untuk menjadi istimewa, banyak perjuangan yang harus dilalui. Anda harus sadar bahwa Anda tidak berhak diperlakukan spesial; Anda masih butuh berjuang untuk mencapai hal itu.

Dua Orang yang Merasa Harus Diistimewakan

1. Si Hebat yang Gak Hebat-hebat Banget

Sombong itu sifat setan. Dalam terminologi Islam, setan diusir dari surga karena tidak mau bersujud pada Adam; ia merasa lebih hebat dalam segala hal dari Adam. Akhirnya setan mendapatkan ganjarannya: di-banned dari surga untuk selamanya dan menjadi makhluk yang paling dibenci oleh Allah.

​Itulah gambaran mengenai "Si Hebat". Si paling "MC" yang merasa memiliki kemampuan di atas rata-rata. Jika Anda merasa hebat, biasanya Anda menuntut orang lain untuk mengistimewakan Anda, padahal dunia tidak harus melakukan itu. Ketika Anda pergi ke SPBU, Anda tetap harus mengantre dan tidak berhak menyerobot antrean meskipun Anda adalah seorang presiden.

​Jika Anda memang hebat, jangan merasa bahwa Anda berhak diistimewakan, karena dunia tidak selalu mengakui kehebatan Anda. Ketika merasa paling hebat, Anda akan menganggap orang lain di bawah Anda. Saat mengalami kegagalan, itu menjadi salah orang lain; Anda akan semakin sering menyalahkan orang lain dan tidak ingin memperbaiki diri.

2. Si Paling Lemah yang Paling Tersakiti

Karena tidak memiliki kemampuan untuk menjadi hebat, sekalian saja Anda menjadi yang paling lemah. Orang lemah harus dibantu untuk berdiri, ditenangkan ketika menangis, dan dibantu saat terjatuh. Menjadi yang paling lemah berarti menjadi seseorang yang (merasa) harus selalu dibantu.

​Anda merasa memiliki masalah yang paling berat dan paling unik, sehingga merasa berhak diistimewakan. Padahal, setiap orang punya masalahnya masing-masing, hanya saja mereka tidak seribut "Si Paling Lemah".

​Itu adalah pikiran orang yang narsis karena lemah. Hal semacam ini harus Anda singkirkan dari kepala. Anda harus sadar bahwa semua orang juga punya problem dan hidup yang harus dihadapi. Terjebak pada mentalitas semacam ini tidak akan membuat Anda bahagia.

Menjadi Manusia yang Umum dan Sederhana

​Di game GTA San Andreas, tokoh utama hanya satu, sisanya adalah NPC. Para NPC ini menjalani hidup yang membosankan: keluar rumah, mengobrol, bahkan ditabrak dengan Ferrari oleh CJ. Namun, apa salahnya menjadi NPC?

​Sebagian besar dari kita hidup sebagai manusia pada umumnya dengan sedikit keistimewaan yang tidak terlalu menonjol. Namun, di situlah nikmatnya. Kita tidak harus mendamaikan perang, kita tidak harus memikirkan sistem pendidikan yang rumit, kita tidak harus menjadi superhero yang menyelamatkan dunia hari ini.

​Menikmati persahabatan, lari pagi dan menyapa orang di jalan, serta mengantarkan anak ke sekolah adalah misi kita sehari-hari. Menikmati kehidupan dari hal-hal yang kecil membuat kita bahagia. Kebahagiaan adalah ketika kita menurunkan standar hidup dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Kita bodo amat dengan pencapaian orang lain dan fokus pada hal-hal kecil yang bisa kita dapatkan dengan mudah.

​Inti dari bab ini adalah kita harus menerima diri kita bahwa kita tidak istimewa, dan itu bukan masalah. Media sosial hanya menyoroti orang-orang yang dianggap spesial, padahal media sosial adalah tempat orang menciptakan ilusi mengenai dirinya. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di kehidupan nyata orang tersebut. Begitu juga orang lain tidak tahu bagaimana kehidupan Anda di luar media sosial, padahal keduanya tidak jauh berbeda.

​Kita sama-sama merasakan ketidakbahagiaan pada titik tertentu, dan kebahagiaan pada saat yang lain. Jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai standar, namun jadikanlah dirimu sendiri sebagai pijakan untuk hidup. Karena kita hidup pada ekosistem yang berbeda dengan masalah yang berbeda, itulah yang membuat kita sama.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments