Dalam tulisan ini saya mencoba melihat perang dari sudut pandang buku "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat"
Perang dan damai itu siklus, mirip seperti PMS. Jika kondisi dunia "normal", maka siklus ini akan datang secara rutin—tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Sejarah manusia, dari zaman Nabi Adam sampai era Trump, adalah catatan tentang siklus perang.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kalau kata Mark Manson: Bodo Amat.
Tunggu dulu. Ini bukan berarti saya sosiopat, menyepelekan nyawa, atau tidak berempati pada korban perang di Timur Tengah. Dengan segala hormat, saya sangat menyayangkan apa yang terjadi. Namun pertanyaannya: Apakah kita harus terus-menerus menyiksa pikiran dengan hal yang di luar kendali kita dan melupakan kewajiban kita sendiri?
Jangan Berusaha:Berusaha Boleh, Tapi Ingat Siapa Kamu?
Jika di buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat kita diajarkan untuk tidak terlalu keras berusaha, maka dalam konteks ini, jika terjadi perang, biarkan saja.
Anda adalah seorang pegawai kantoran biasa yang memiliki anak dan istri, atau Anda adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus anak sambil menunggu suami pulang. Lalu, tiba-tiba Trump menyerang semua negara yang tidak dia sukai—seperti anak kecil yang marah-marah dan membanting boneka rusaknya.
Lalu, apa yang terjadi pada Anda? Melihat dunia yang semakin kacau, apakah Anda panik, geram, atau biasa saja?
Mungkin Anda ingin menghentikan perang. Jika iya, cita-cita Anda sangat mulia, tapi bangunlah! Tugas Anda adalah menyenangkan bos di kantor—yang mungkin sesekali mengharuskan Anda sedikit "menjilat" demi karier. Di rumah, ada anak yang menagih janji sepeda baru yang belum sanggup Anda beli sampai hari ini. Lalu, Anda ingin mengubah pikiran Trump?
Sadarlah. Paling mentok, Anda hanya akan berakhir menjadi keyboard warrior yang memuntahkan kata-kata toksik di kolom komentar. Hasilnya? Perang tetap jalan, tapi hidup Anda makin pahit.
Atau Anda panik dan parno? Membeli bahan pangan berlebihan dan menimbun bensin seolah-olah besok rudal Amerika akan menghantam halaman rumah Anda. Hal itu bisa saja terjadi, tapi sebaiknya Anda tenang dulu. Ambil napas dalam-dalam dan berpikirlah dengan jernih.
Berharap perang tidak terjadi itu boleh. Namun, kamu harus tahu kapasitasmu sekarang. Jangan sampai masalah perang ini mengambil alih hidupmu, padahal perang itu ada di ujung dunia sana.
Tugasmu adalah hidup sekarang dan saat ini. Jika perang terjadi, biarlah terjadi. Kita hanya bisa bertindak sesuai kapasitas yang kita miliki. Kalau Anda hanya bisa menjadi keyboard warrior, maka jadilah (yang bijak). Kalau Anda bisa menyumbangkan uang untuk korban perang, maka sumbangkanlah. Kalau Anda politisi dan memiliki pengaruh, maka gunakanlah. Kita hanya bisa memilih pilihan yang ada di depan kita, dan kita tidak bisa memilih pilihan yang tidak diberikan kepada kita.
Tidak perlu memikirkan perang sampai menggerus masalah lain yang lebih dekat. Jika Anda bisa melipat baju Anda, maka lakukanlah itu karena hal tersebut sama pentingnya dengan menghentikan perang bagi hidup Anda.
Memang akan ada pengaruhnya pada negara kita, namun bersikaplah sesuai kapasitas Anda. Terimalah perang dengan berbagai konsekuensinya sehingga Anda bisa bersiap-siap. Kita tahu dunia tidak akan berjalan seperti yang Anda inginkan; dunia berjalan dengan caranya sendiri. Anda adalah bagian dari dunia, bukan pemilik dunia. Jadi, terimalah bahwa Anda tidak bisa melakukan segalanya.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments