Senin, 02 Maret 2026

thumbnail

Tiny Habit sedang Saya Baca: Fokus pada Kebiasaan Kecil


Tini Habit (BJ. FOGG)

Sudah beberapa hari yang lalu saya membeli buku Tiny Habit ini karena dilanda penasaran. Sebelumnya, saya sudah membaca Atomic Habits dan The Power of Habit. Saya sangat menyukai buku "perhabitan" karena saya sepakat dengan sebuah pernyataan: “Bahwa kita adalah kebiasaan yang kita lakukan.” Dan yang penting, saya merasa bahwa saya memiliki masalah dalam menciptakan perilaku yang baik bagi saya. Dari ketiga buku ini, saya mulai sedikit demi sedikit memperbaiki diri dengan memperbaiki kebiasaan saya, dan saya merasa berhasil.

Saya sudah membacanya sekitar dua mingguan dan sudah mendapatkan sekitar 75 halaman dari total sekitar 400-an halaman.

Fokus Pada yang Kecil Sejauh yang saya pahami, buku ini menawarkan untuk fokus pada kebiasaan-kebiasaan yang kecil, mudah, dan sederhana. Kebiasaan bermeditasi yang alih-alih dilakukan dalam 2 jam, bisa kita pangkas menjadi tiga tarikan nafas. Atau olahraga push-up yang biasanya kita targetkan 10-20 kali, hanya dilakukan dua kali saja. Buku ini benar-benar fokus pada kebiasaan-kebiasaan yang kecil, bahkan saking kecilnya tidak membutuhkan motivasi yang tinggi.

Mengapa Harus Kecil? Kegagalan kita dalam membentuk kebiasaan karena kita melakukannya dalam jumlah kualitas dan kuantitas yang sangat besar karena kita ingin segera mendapatkan manfaat utamanya. Padahal, kemampuan kita belum sampai di situ. Angan-angan kita sudah berkata kita bisa push-up seratus kali dalam sehari; alhasil, otak mengingatnya sebagai beban yang susah untuk dilaksanakan.

Jika motivasi kita dalam kondisi tinggi, hal itu bisa saja dilakukan. Namun, motivasi kita tidak selamanya dalam kondisi yang tinggi. Lebih seringnya, motivasi kita berada dalam kondisi yang rendah. Ketika motivasi kita rendah, maka push-up seratus kali akan sangat susah untuk dilakukan.

Karena "monyet motivasi" yang kadang datang dan kadang pergi tanpa permisi inilah, kita perlu menyederhanakan kebiasaan kita. Kebiasaan ini harus sangat mudah dilakukan, bahkan dengan motivasi yang setipis tisu pun dia masih bisa dilakukan. Maka dari itu, BJ Fogg menganjurkan untuk memperkecil perilaku kita supaya otak tidak mencatatnya sebagai beban.

Bagaimana Menerapkannya? BJ Fogg, sang penulis, mengungkapkan rumus P=MKD, artinya Perilaku = Motivasi, Kemampuan, Dorongan. Artinya, perilaku akan terbentuk jika Motivasi, Kemampuan, dan Dorongan selaras seperti gambar berikut.



Dari gambar tersebut bisa kita lihat bahwa semakin mudah sesuatu dilakukan, atau semakin tinggi suatu motivasi, maka kemungkinan besar perilaku itu akan terlaksana.

Yang saya baca masih dua bab. Mengenai motivasi adalah yang paling "menampar" saya. Jangan melakukan apa pun atas dasar motivasi karena motivasi tidak bisa kita tebak kapan dia datang dan pergi. Jadi, lakukanlah sesuatu sesederhana mungkin sampai-sampai kita tidak memerlukan motivasi untuk melakukannya.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments