Sabtu, 26 September 2026

thumbnail

1Q84: Realitas yang Gelap dan Berujung Pertanyaan


Apakah anda tahu? batas antara nyata dan tidak? Pastikan anda benar-benar hidup dalam kenyataan. Kar na batas antara nyata dan tidak nyata mungkin sangat rapuh atau bahkan tidak ada bedanya

1Q84 Ingin menggali kesadaran kita terhadap realitas. Membenturkan yang nyata dan tidak, ketika hal yang fantasi tiba-tiba hadir di dunia nyata dengan cara yang paling halus. Lalu muncul pertanyaan "nyata dan tidak nyata apa bedanya?"

Semua berawal dari Kawana Tengo yang menulis ulang sebuah novel berjudul "Kepompong Udara" atas tawaran seorang editor bernama Komatsu. Penulisan ulang ini bertujuan untuk menciptakan sensasi di dunia kesusastraan karena penghargaan untuk penulis muda diterima oleh seorang penulis yang benar-benar muda yang berusia 17 tahun yaitu Fukada Eriko. Tengo yang juga seorang guru les matematika ini awalnya tidak setuju dengan rencana liar Komatsu namun Komatsu membujuk Tengo hingga akhirnya Tengo luluh. Apalagi dia juga tertarik dengan novel "Kepompong Udara".

Benar saja, setelah ditulis ulang oleh Tengo novel itu meledak dan menjadi best seller hingga memenangkan penghargaan penulis muda. Masalah pun dimulai.

Ada kelompok agama yang merasa terganggu dengan kehadiran novel itu. Kelompok itu bernama Sakigake sebuah kelompok agama yang memilih menutup diri dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara melakukan pertanian organik. Kehidupan mereka benar-benar misterius tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam kompleks Sakigake.

Sakigake beranggapan bahwa yang dilakukan Fukada Eriko dengan membuat novel Kepompong Udara telah menodai agama mereka. Dengan hal itu, firman tidak bisa diterima oleh pemimpin mereka. Hal inilah yang membuat Tengo, Komatsu, Fukada Eriko dan kawan-kawannya diburu. Perburuan itu berhenti ketika Pemimpin mereka - yang juga ayah dari Fukada Eriko - dibunuh oleh Aomame, seorang tukang pijat yang bisa membunuh dengan akupuntur tanpa meninggalkan bekas apapun. Aomame juga memiliki hubungan yang unik dengan Tengo.

Aomame dan Tengo adalah tokoh kunci di dalamnya. Entah bagaimana mereka saling tertarik satu sama lain meskipun mereka tidak pernah saling berbicara. Mereka hanya pernah bergandengan tangan sekali ketika SD kemudian Aomame pindah sekolah dan selama duapuluh tahun mereka tidak pernah saling bertemu. Namun peristiwa bergandengan tangan itu, entah bagaimana selalu membekas diingatan masing-masing, hingga puncaknya nanti mereka bertemu.

Menciptakan Dunia Alternatif yang Ganjil

Yang saya sukai dari Haruki Murakami adalah kepiawaiannya menciptakan semacam dunia atau kondisi yang ganjil. Dia menciptakan itu dengan menambahkan beberapa detail aneh tapi tidak over pada kondisi-kondisi dalam novel itu. Salah satunya adalah mengenai bulan yang ada dua.

Dalam dunia 1Q84 bulan ada dua. Satu besar atau bulan normal yang biasa kita lihat dan yang satu adalah bulan kecil dengan warna agak kehijauan. Yang menarik adalah kemunculan bulan kecil ini tidak menjadi sesuatu yang menggemparkan banyak orang. Seolah semua orang dalam dunia 1Q84 itu sepakat bahwa bulan yang berjumlah dua itu normal. 

Namun itu tidak normal bagi orang-orang tertentu. Orang-orang itu adalah orang-orang yang diyakini masuk ke dalam dunia 1Q84. Tiba-tiba saja tokoh-tokoh ini menyadari bahwa bulan ada dua. Pada umumnya mereka menyadari keberadaan dua bulan ini setelah melewati sesuatu yang berhubungan dengan Sakigake atau "Kepompong Udara".

Proses masuknya tokoh Aomame ke dalam dunia 1Q84 ini tidak dilalui dengan hal yang heroik. Dia hanya turun dari tol yang macet lewat tangga darurat diteman lagu simfonieta Janacek dan sedikit perasaan aneh dan malamnya dia melihat ada dua rembulan di langit.

Penggambaran dunia yang berbeda namun masih menyuguhkan ornamen-ornamen yang sama membuat pembaca juga ikut mempertanyakan apakah dunia yang dilalui pembaca merupakan dunia yang sama dari yang sebelumnya.

Banyak Lubang yang Tidak ditambal tapi Disitulah Keindahannya


Ciri khas dari novel Murakami adalah misteri yang tidak terjawab. Salah satunya adalah petugas NHK. Petugas NHK Mengetuk pintu para tokoh di dalamnya namun petugas ini tidak pernah ketahuan tujuannya apa karena para tokoh umumnya tidak berlangganan NHK bahkan tidak memiliki TV di rumahnya. Seperti apa bentuk wujudnya bahkan sampai novel selesai misteri petugas NHK itu masih belum dijawab.

Misteri yang lain adalah orang kecil. Tidak pernah dijelaskan orang kecil ini baik atau jahat. Tidak dijelaskan mereka berdiri di pihak mana? dan apa tujuan mereka? namun keberadaan mereka hampir selalu ada kejadian besar. Sampai akhir tidak dijelaskan dengan pasti asal-usul orang kecil dengan jelas. Mereka hanya muncul sesekali untuk membuat kepompong udara lalu menghilang lagi.

Semua itu seolah menjadi rahasia yang dibiarkan tetap gelap. Tidak perlu seluruh rahasia diungkap dan diselesaikan. Mungkin itulah keinginan dari penulis, meninggalkan kesan tersendiri dan membuat pembaca menginterpretasi dengan liar.

Sebagai sebuah trilogi 1Q84 layak untuk dibaca dikala senggang. dan santai Novel ini menurut saya tidak terlalu berat namun memiliki nilai estetik yang luar biasa. Dia berbeda dari Novel-novel Indonesia yang lain. Saya jarang mendapati struktur novel yang seperti ini: Mulai dari penulisan bab nya yang didasarkan pada sudut pandang tokohnya, misteri di dalamnya, dan dunia yang diciptakan. 



Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments